MBCIndonesia – Harga minyak mentah dunia anjlok lebih dari 8 persen pada perdagangan Rabu (4/11/2026). Penurunan ini terjadi setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan sela (midterm election) Amerika Serikat (AS).
Melansir dari Kumparan mengutip Bloomberg, harga minyak mentah Brent untuk kontrak Januari tercatat sebesar USD 94,55 per barel pada Kamis (5/11/2026) pukul 09.07 waktu Singapura. Angka tersebut mengikuti penurunan sebesar 8,7 persen pada sesi sebelumnya.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember berada di level USD 87,87 per barel. Harga WTI juga turun 8,3 persen pada perdagangan Rabu.
Kemenangan Demokrat Tekan Harga Minyak
Hasil pemilihan sela AS menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan pasar energi. Kemenangan Demokrat atas Partai Republik di kedua kamar Kongres memperbesar tekanan politik terhadap Presiden Donald Trump.
Wakil Presiden AS JD Vance menyebut ketidakpuasan pemilih terhadap perang dan hubungan AS-Israel menjadi faktor yang merugikan Partai Republik.
Sementara itu, Pemimpin Minoritas Senat Chuck Schumer berjanji mendorong upaya mengakhiri konflik di Timur Tengah yang telah memasuki bulan kesembilan.
Investor menilai perubahan kekuatan politik di Kongres dapat membatasi ruang gerak pemerintahan Trump, termasuk dalam menentukan anggaran dan kebijakan terkait konflik Iran.
Trump juga menyatakan belum memiliki rencana untuk meningkatkan serangan terhadap Iran. Ia bahkan mengakui bahwa perang menjadi salah satu faktor kekalahan Partai Republik dalam pemilihan sela.
Pasokan Minyak Timur Tengah Kembali Meningkat
Selain faktor politik, peningkatan ekspor minyak mentah dari kawasan Teluk Persia turut menekan harga minyak dunia.
Di sisi lain, gangguan pengiriman produk minyak dan meningkatnya serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia masih memengaruhi pasokan bahan bakar global.
Wakil Presiden Senior BOK Financial Securities Inc., Dennis Kissler, mengatakan peningkatan ekspor minyak mentah dari Timur Tengah serta sikap Trump yang belum berencana menyerang Iran membuat harga minyak tetap berada di bawah tekanan.
Meski demikian, pasar bahan bakar masih menghadapi keterbatasan pasokan.
Di Amerika Serikat, persediaan bahan bakar distilat, termasuk solar, turun di bawah 100 juta barel pada pekan lalu. Menurut data pemerintah AS, angka tersebut menjadi level terendah sejak 2003.
Persediaan minyak mentah nasional AS juga terus menyusut selama lima pekan berturut-turut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun harga minyak mentah mengalami penurunan tajam, tekanan terhadap pasokan bahan bakar global masih membayangi pasar energi.(ogit)


Leave a Reply