Prabowo Pastikan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Jakarta, MBCIndonesia.com – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memastikan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah dinamika ekonomi global. Hal tersebut mengemuka dalam rapat terbatas bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/11/2026).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa sejumlah indikator ekonomi nasional menunjukkan perkembangan positif. Indikator tersebut mencakup sektor manufaktur, perdagangan, ekspor, hingga stabilitas harga.

Salah satu perkembangan positif terlihat dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia yang mencapai 54 pada Oktober 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 52,4.

Airlangga mengatakan capaian itu menunjukkan penguatan aktivitas manufaktur nasional. Bahkan, indeks tersebut mencatat level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.

Surplus Perdagangan dan Ekspor Terus Menguat

Dari sektor perdagangan, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan sebesar 3,36 miliar dolar AS pada September 2026. Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas sebesar 5,67 miliar dolar AS. Sementara itu, perdagangan migas mencatat defisit sebesar 2,31 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga September 2026 mencatat surplus 10,61 miliar dolar AS. Airlangga menjelaskan surplus nonmigas mencapai 34,21 miliar dolar AS. Namun, sektor migas masih mencatat defisit sebesar 23,6 miliar dolar AS.

Kinerja ekspor juga menunjukkan pertumbuhan positif. Nilai ekspor Indonesia selama Januari hingga September 2026 mencapai 221,23 miliar dolar AS atau tumbuh 5,58 persen secara tahunan. Dari jumlah tersebut, ekspor nonmigas menyumbang 212,27 miliar dolar AS.

Pemerintah Jaga Inflasi dan Daya Beli Masyarakat

Di sisi stabilitas harga, inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan (year-on-year) dan 0,22 persen secara bulanan (month-to-month).

Sementara itu, inflasi tahun kalender (year-to-date) mencapai 2,4 persen. Airlangga menilai angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi pemerintah sebesar 2,5 persen dengan toleransi 1 persen.

Menurutnya, kenaikan harga sejumlah komoditas pangan turut memengaruhi inflasi. Beberapa di antaranya cabai rawit dan ikan segar. Selain itu, sektor transportasi, termasuk angkutan udara, juga memberikan tekanan terhadap harga. Untuk mengantisipasi kenaikan biaya perjalanan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), pemerintah menyiapkan program diskon transportasi.

Airlangga mengatakan langkah tersebut bertujuan menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung kelancaran aktivitas ekonomi selama periode libur akhir tahun. Ia menegaskan berbagai indikator tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi nasional masih terjaga.

“Fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini. Sampai akhir tahun, kami berharap kondisi tetap terjaga,” ujar Airlangga.

Melalui koordinasi lintas kementerian, pemerintah berupaya mempertahankan pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat perdagangan nasional hingga akhir 2026.(ogit)

Leave a Reply

Your email address will not be published.