Aceh, MBCIndonesia – Pertumbuhan ekonomi di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Lhokseumawe, mencapai 4,46 persen. Capaian tersebut menunjukkan ekonomi daerah masih tumbuh di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Aceh secara keseluruhan yang mencakup 23 kabupaten/kota mencapai 4,86 persen.
Kepala KPw BI Lhokseumawe, Yudo Herlambang, menyampaikan capaian tersebut dalam kegiatan Temu Media 2026 di Aula Caffe Petro Dollar, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, Kamis (29/10/2026).
Wilayah kerja BI Lhokseumawe mencakup 11 kabupaten/kota, yakni Aceh Tamiang, Kota Langsa, Aceh Utara, Lhokseumawe, Bireuen, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, Aceh Singkil, Subulussalam, dan Aceh Tenggara.
“Ekonomi di wilayah kerja KPw BI Lhokseumawe masih tumbuh 4,46 persen. Bahkan, ekonomi Aceh secara keseluruhan mencapai 4,86 persen,” ungkap Yudo.
Ia menjelaskan, gejolak ekonomi dunia akibat perang serta ketegangan di Selat Hormuz turut memengaruhi harga minyak dunia yang mencapai 115 dolar AS per barel. Namun, kondisi tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh.
Meski pertumbuhan ekonomi masih terjaga, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memberikan tekanan kepada sejumlah pelaku usaha, terutama pengrajin tahu dan tempe.
Indonesia masih bergantung pada kedelai impor dari Amerika Serikat. Nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp18.200 per dolar AS ikut meningkatkan biaya pembelian bahan baku.
Kondisi ini membuat pengrajin kesulitan menaikkan harga jual karena khawatir menurunkan daya beli konsumen.
Seorang pedagang di Pasar Inpres Lhokseumawe mengatakan, pengrajin memilih memperkecil ukuran tahu agar tetap bisa mempertahankan harga Rp1.000 per potong.
Inflasi Tiga Daerah Jadi Perhatian BI
Yudo mengatakan, pemerintah terus mendorong program swasembada pangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Selain itu, pemerintah juga mempercepat pembangunan infrastruktur di Aceh untuk mendukung pemulihan wilayah yang terdampak banjir bandang, khususnya di kawasan pesisir timur dan dataran tengah.
Di sisi lain, hasil survei menunjukkan optimisme masyarakat Aceh terhadap kondisi ekonomi masih cukup baik. Indeks keyakinan masyarakat tercatat mencapai 100,67 atau berada di atas angka 100.
Meski demikian, BI mencatat tiga daerah di wilayah kerjanya masih menghadapi inflasi cukup tinggi. Lhokseumawe mencatat inflasi 4,49 persen, Aceh Tengah 5,85 persen, dan Aceh Tamiang 5,75 persen.
Menurut Yudo, pemerintah perlu menjaga kelancaran pasokan dan ketersediaan kebutuhan pokok agar kenaikan harga tidak semakin menekan daya beli masyarakat.
Karena itu, stabilitas harga pangan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga pertumbuhan ekonomi daerah tetap berkelanjutan.(ogit)


Leave a Reply