Presiden RI Kobarkan Kekuatan Negara Dunia Bersatu

MBCIndonesia.com, NEW DELHI – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa blok ekonomi BRICS memegang peran krusial dalam memperkuat ketahanan global. Penegasan ini Prabowo sampaikan saat menghadiri sesi terbatas bertema “Inclusive Global Governance and Strengthening Multilateralism” pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, Sabtu (12/9/2026).

Sebagai anggota baru BRICS, Presiden RI menyuarakan pentingnya solidaritas bagi hak-hak negara berkembang (Global South). Prabowo menghidupkan kembali semangat persatuan Asia-Afrika demi mencapai kemandirian ekonomi.

Kobarkan Semangat Solidaritas Asia-Afrika

Awalnya, Kepala Negara menyampaikan rasa terima kasih atas diterimanya Indonesia ke dalam aliansi strategis ini. Presiden kemudian membakar semangat para pemimpin dunia dengan mengutip pepatah kuno Indonesia.

“Ada sebuah pepatah lama Indonesia, ‘Bersatu kita teguh, terpecah kita runtuh’. Kebijaksanaan sederhana ini membawa kembali semangat yang menyatukan negara-negara Selatan dari Asia dan Afrika,” ujar Presiden Prabowo.

Prabowo juga mengajak seluruh anggota BRICS untuk memobilisasi kekuatan kolektif demi mengamankan pasokan pangan dan energi global. Menurutnya, integrasi pasar, modal, teknologi, dan pengetahuan akan membuka kesempatan yang jauh lebih baik bagi dunia berkembang.

Tolak Dikte Kekuatan Besar dan Desak Reformasi PBB

Secara blak-blakan, pimpinan negara Indonesia ini juga menyatakan menolak dominasi sepihak dari kekuatan global tertentu. Prabowo menekankan pentingnya membangun fondasi keamanan dan kepercayaan yang setara.

“Kita tidak ingin dikutuk oleh satu atau dua kekuatan. Kita harus bersabar, lalu kita akan menjadi benar-benar berdikari,” tegasnya di hadapan forum.

Di samping itu, Presiden RI menyoroti peran penting Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan institusi finansial internasional. Prabowo menuntut reformasi total agar lembaga-lembaga tersebut tidak menjadi alat politik negara maju.

“Untuk berjaya, kita harus menjaga PBB di tengah sistem itu. Namun, PBB harus di reformasi agar lebih representatif, responsif, dan mampu memberikan hasil konkret bagi rakyat kita. Sama halnya dengan institusi finansial internasional yang harus berkembang. Pembelajaran dan keuangan tidak boleh di persenjatai,” pungkasnya.

Pada akhir pidatonya, Presiden Prabowo meyakini bahwa kekuatan kolektif BRICS tidak boleh hanya tersisa di atas kertas. Sebaliknya, kekuatan besar ini harus menerjemahkan peluang nyata menjadi kesejahteraan bagi rakyat di belahan bumi bagian selatan.(ogit)

Leave a Reply

Your email address will not be published.