MBCIndonesia.com, Jakarta – Nilai tukar rupiah berpotensi melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (15/9/2026). Proyeksi pergerakan di kisaran Rp17.660 hingga Rp17.710 per dolar AS. Berdasarkan data Trading View, rupiah sudah menutup perdagangan Senin (14/9/2026) dengan penurunan sebesar 0,33 persen ke level Rp17.669 per dolar AS.
Konflik Iran-AS Ganggu Pasokan Minyak Selat Hormuz
Direktur Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik antara Iran dan AS menjadi pemicu utama ambrolnya nilai tukar rupiah. Konflik tersebut mengganggu jalur pasokan minyak penting di kawasan Timur Tengah.
Selain itu, penundaan pertemuan regional antara Iran dan negara-negara Teluk tanpa batas waktu yang jelas memperparah situasi finansial ini. Akibatnya, wilayah Selat Hormuz berpotensi tetap menjadi zona konflik yang menyusutkan pasokan minyak global hingga jauh di bawah level normal.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed dan Inflasi AS Melonjak
Bukan hanya faktor Timur Tengah, sentimen dari Negeri Paman Sam turut menekan mata uang Garuda. Data inflasi AS pada Agustus menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) inti naik 0,3 persen secara bulanan.
Serta merta, data ekonomi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan pekan ini. Saat ini, sebanyak 88 persen pelaku pasar memproyeksikan kenaikan suku bunga pada September 2026. Meskipun Presiden Donald Trump terus mendesak penurunan suku bunga.(ogit)


Leave a Reply