MBCIndonesia.com, Kathmandu – Korban jiwa akibat banjir bandang dahsyat di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet kini resmi melampaui 1.000 orang. Otoritas keamanan setempat menyampaikan data kelam ini. Setelah tim SAR menemukan puluhan jenazah baru di bawah timbunan material lumpur dan batuan.
Kompilasi informasi yang berkembang di rangkum mbcindonesia.com Rabu (2/9). Bencana mengerikan ini bermula ketika struktur batuan dasar di bawah gletser Gunung Langtang Lirung, Himalaya, runtuh dari ketinggian 5.200 meter. Pemerintah setempat menduga kuat bahwa pemanasan global ekstrem memicu runtuhnya gletser raksasa tersebut.
Runtuhan es dan batu ini kemudian membendung sungai secara alami hingga akhirnya jebol dan menciptakan gelombang banjir bandang setinggi 9 Meter yang menyapu permukiman dalam waktu 30 menit.
Posko Pengungsian Utama di Distrik Rasuwa
Saat ini, pemerintah Nepal memusatkan penampungan korban selamat di posko pengungsian utama Distrik Rasuwa dan area pangkalan militer Bidur, Distrik Nuwakot. Lebih dari 11.000 warga telah berhasil dievakuasi ke lokasi ini menggunakan helikopter militer. Namun, kondisi posko mulai sesak dan kekurangan fasilitas sanitasi darurat.
Kebutuhan Mendesak Bantuan Internasional
Selanjutnya, pemerintah Nepal membuka pintu bagi bantuan internasional pascabencana. Selain bantuan dana darurat, mereka memerlukan dukungan teknis yang sangat spesifik dari luar negeri.
“Kami sangat membutuhkan personel ahli evakuasi bawah tanah serta peralatan canggih untuk menyelamatkan ratusan pekerja yang masih terjebak di dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA),” ujar Juru Bicara Angkatan Darat Nepal, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, dalam konferensi persnya.
Selain alat berat penembus terowongan, tim medis di posko juga membutuhkan peralatan tes DNA portabel guna mengidentifikasi ratusan jenazah yang kondisinya rusak parah sebelum proses pemakaman massal.
Lumpuhnya Ekonomi Warga Perbatasan
Di sisi lain, bencana ini membawa dampak ekonomi jangka panjang yang sangat mematikan bagi warga perbatasan. Kawasan Rasuwa dan Jalur Gyirong merupakan urat nadi utama perdagangan bilateral antara Nepal dan China.
Hancurnya infrastruktur jalan raya, jembatan penghubung, serta 12 proyek PLTA seketika mematikan mata pencaharian warga lokal yang bergantung pada sektor logistik, perdagangan, dan pariwisata Himalaya. Para ahli memprediksi wilayah perbatasan ini membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk memulihkan roda perekonomian mereka.(ogit)


Leave a Reply