Lombok, MBCIndonesia – Gelaran MotoGP Indonesia di Sirkuit Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak hanya menyuguhkan persaingan sengit para pebalap di lintasan. Ajang balap dunia tersebut juga menghadirkan hal menarik melalui penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah dalam unggahan resmi MotoGP di media sosial.
Sejumlah unggahan selama seri Indonesia menampilkan istilah lokal yang akrab di telinga masyarakat. Penggunaan bahasa tersebut membuat konten MotoGP terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga Indonesia.
Mengutip dari ‘kompas.com’ Selasa (20/10). Salah satu unggahan menampilkan pebalap Honda Team Asia, Veda Ega Pratama, dengan keterangan “Bocah Wonosari”. Istilah bocah berarti anak atau anak kecil, sedangkan Wonosari merujuk pada daerah asal Veda di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
MotoGP juga menggunakan ungkapan “Laju Bana”, yang berasal dari bahasa Minangkabau. Istilah tersebut memiliki arti kurang lebih “cepat sekali” atau “kencang banget” untuk menggambarkan kecepatan para pebalap saat melaju di lintasan.
Selain itu, muncul kata “Hareudang” dari bahasa Sunda yang berarti panas atau gerah. Masyarakat Sunda kerap menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan kondisi cuaca maupun suasana yang terasa panas.
Penggunaan beragam istilah lokal tersebut menjadi daya tarik tersendiri dalam komunikasi MotoGP dengan penggemar di Indonesia. Selain memperkenalkan bahasa Indonesia, unggahan itu juga membawa kekayaan bahasa daerah ke panggung internasional.
Bahasa Jadi Promosi Budaya Indonesia
Kehadiran MotoGP di Mandalika membuka peluang lebih luas untuk memperkenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia. Tidak hanya melalui keindahan alam dan destinasi wisata, ajang internasional ini juga dapat menjadi sarana promosi kebudayaan.
Ragam bahasa daerah menjadi salah satu kekayaan budaya yang menarik untuk diperkenalkan kepada penonton dari berbagai negara. Melalui istilah sederhana dalam unggahan media sosial, masyarakat internasional dapat mengenal keunikan cara berkomunikasi di Indonesia.
Selain mendukung promosi pariwisata, MotoGP Indonesia juga berpotensi memperluas pengenalan budaya Nusantara, termasuk bahasa daerah yang memiliki ciri khas masing-masing.
Bahasa Indonesia Masuk 10 Besar Dunia
Di sisi lain, bahasa Indonesia memiliki jangkauan penutur yang luas, baik di dalam maupun luar negeri. Menurut data Ethnologue yang menjadi rujukan dalam laporan tersebut, bahasa Indonesia masuk dalam daftar 10 bahasa dengan jumlah penutur terbanyak di dunia.
Ethnologue menempatkan bahasa Indonesia di peringkat ke-10 dengan sekitar 252,4 juta penutur. Jumlah tersebut mencakup pengguna bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama maupun bahasa kedua.
Sementara itu, bahasa Inggris menempati posisi pertama dengan sekitar 1,5 miliar penutur. Bahasa Mandarin berada di urutan kedua dengan 1,1 miliar penutur, disusul bahasa Hindi dengan sekitar 609,1 juta penutur.
Capaian tersebut menunjukkan luasnya penggunaan bahasa Indonesia di berbagai negara. Kehadiran MotoGP Mandalika pun menjadi momentum untuk memperkenalkan bahasa nasional sekaligus bahasa daerah kepada masyarakat internasional.
Melalui panggung olahraga dunia, Indonesia tidak hanya menunjukkan kemampuan dalam bidang otomotif, tetapi juga memperkenalkan identitas dan kekayaan budayanya kepada dunia.(ogit)


Leave a Reply