MBCIndonesia.com, Vladivostok – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan pentingnya penguatan kerja sama dan membangun jembatan antar negara di tengah situasi global yang makin terfragmentasi.
Pemimpin Indonesia tersebut menyampaikan pesan kuat ini saat berpidato sebagai tamu kehormatan utama dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, pada Kamis (3/9/2026).
Di hadapan para pemimpin dunia, Presiden Prabowo menyoroti tantangan berat platform perdagangan global saat ini yang kerap menjadi senjata politik. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh negara untuk menjawab kecurigaan global dengan kolaborasi nyata di bidang pangan, energi, sains, logistik, dan perdagangan.
Tolak Monopoli Keuangan Global
Selain itu, Kepala Negara menyoroti arsitektur keuangan dunia yang kini terkotak-kotak secara geografis. Ia menegaskan bahwa ketahanan ekonomi global memerlukan sistem keuangan alternatif yang inklusif dan mampu beroperasi secara berdampingan.
“Hal ini bukan tentang mengganti satu sistem dengan sistem lainnya, melainkan tentang memastikan adanya sistem keuangan global lain yang dapat beroperasi berdampingan dengan sistem yang sudah ada demi menjaga keberlangsungan, stabilitas, dan kepercayaan dalam perdagangan internasional,” ucap Presiden Prabowo.
Presiden kembali menegaskan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Indonesia memilih tidak terikat dalam aliansi militer apa pun, namun tetap membuka diri secara aktif untuk membangun kemitraan ekonomi. Menurutnya, wadah Global South bukanlah sebuah blok baru, melainkan ruang perjuangan demi keadilan suara dan kesejahteraan yang setara.
Gelorakan Semangat Gotong Royong
Menariknya, dalam pidato tersebut, Presiden Prabowo menyamakan pepatah Rusia dengan filosofi asli Indonesia untuk mempererat hubungan kedua negara. Hubungan historis yang telah terjalin puluhan tahun harus menghasilkan manfaat yang terasa langsung oleh masyarakat saat ini.
“Saya memahami bahwa rakyat Rusia memiliki pepatah ‘Odin v pole ne voin.’ Tidak akan ada kemenangan jika kita berjuang sendirian. Di Indonesia, kita memiliki konsep serupa yang disebut ‘gotong royong’. Beban seberat apa pun akan terasa ringan jika dipikul bersama,” tuturnya.
Sebagai langkah konkret, Presiden mendorong penguatan hubungan bilateral melalui pembukaan jalur pelayaran dan penerbangan langsung. Tidak hanya itu, ia juga mendesak optimalisasi Free Trade Agreement (FTA) serta kolaborasi antara Danantara dan Russian Direct Investment Fund (RDIF) untuk membiayai berbagai proyek strategis.
Pada akhir pidatonya, Presiden Prabowo mengajak semua pihak memastikan bahwa kesepakatan di Vladivostok menghasilkan dampak nyata. Saat pihak lain sibuk membangun tembok pembatas, Indonesia dan mitra strategisnya justru harus terus membangun jembatan kesejahteraan.(ogit)


Leave a Reply