Jakarta, MBCIndonesia – Polri terus mengembangkan penyidikan kasus laboratorium rahasia narkotika atau clandestine lab di Kabupaten Pidie, Aceh. Selain memburu enam orang yang masuk daftar pencarian orang (DPO). Penyidik juga menelusuri aliran dana dan aset jaringan tersebut melalui penerapan tindak pidana pencucian uang (TPPU).
Mengutip dari detik.com, Sabtu (24/10). Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengatakan, langkah tersebut bertujuan memiskinkan para pelaku sekaligus memutus sumber keuangan jaringan narkotika internasional.
Dalam pengungkapan laboratorium yang di sebut terbesar di Indonesia itu, tim gabungan mengamankan barang bukti narkotika dengan berat mencapai 1,2 ton bruto.
Periksa Enam Ponsel untuk Bongkar Jaringan
Suyudi menjelaskan, penyidik akan melakukan pemeriksaan forensik digital terhadap enam telepon genggam yang di temukan saat penggerebekan.
Melalui pemeriksaan tersebut, Polri ingin mengungkap komunikasi para pelaku, hubungan antarpelaku, serta pihak yang mengendalikan aktivitas laboratorium narkotika itu.
“Kami akan mendalami forensik digital enam telepon genggam dan menerapkan pasal TPPU guna memiskinkan jaringan ini,” kata Suyudi dalam konferensi pers di Aceh, Jumat (23/10/2026).
Selain itu, penyidik akan menelusuri aset dan transaksi keuangan yang di duga berkaitan dengan aktivitas produksi serta peredaran narkotika.
Enam DPO, Termasuk Pengendali Utama
Polri telah menetapkan enam orang sebagai DPO dalam kasus tersebut. Lima orang di duga berperan sebagai pengatur lapangan, masing-masing berinisial Z, ES, J, BR, dan SS.
Sementara itu, seorang lainnya berinisial LS di duga menjadi pengendali utama jaringan.
Suyudi menegaskan, tim kepolisian masih memburu seluruh buronan tersebut. Bahkan, Polri akan berkoordinasi dengan pihak berwenang di China untuk melacak keberadaan LS.
“Kami terus memburu para DPO dan berkoordinasi dengan pihak di China untuk menangkap pengendali utama berinisial LS,” ujarnya.
Diduga Libatkan Sindikat China dan Malaysia
Sebelumnya, tim gabungan Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai menggerebek laboratorium rahasia narkotika di Kabupaten Pidie.
Dalam operasi tersebut, petugas menemukan dua unit toko yang di duga telah di sulap menjadi tempat produksi sabu.
Berdasarkan penyelidikan awal, laboratorium itu di duga memiliki hubungan dengan jaringan narkotika internasional yang melibatkan sindikat dari China, Malaysia, dan Indonesia.
Petugas juga mengamankan lima orang tersangka berinisial LJ, F, MY, AK, dan AY di lokasi penggerebekan.
Petugas Temukan 20 Drum Sabu Cair
Dari hasil penggeledahan, tim gabungan menemukan 20 drum berisi sabu cair serta sekitar 500 kilogram sabu kristal.
Jika ditotal, barang bukti narkotika yang berhasil diamankan mencapai 1,2 ton bruto.
Kini, Polri terus mengembangkan penyidikan untuk mengungkap seluruh pihak yang terlibat. Selain mengejar para buronan, penyidik juga menelusuri komunikasi digital dan aliran keuangan jaringan tersebut.
Dengan demikian, penegakan hukum tidak hanya menyasar para pelaku di lapangan, tetapi juga pengendali utama dan pihak yang menikmati keuntungan dari bisnis narkotika lintas negara.(ogit)


Leave a Reply