Pezeshkian di PBB: Iran Tak Akan Tunduk Hadapi AS dan Israel

New York, MBCIndonesia.com – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan menyerah menghadapi tekanan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Pernyataan itu ia sampaikan saat berpidato dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Mengutip laporan dari ‘en-hrana.org’ Jumat (2/10/2026). Pezeshkian mengatakan Iran tetap membuka ruang untuk dialog dan diplomasi. Namun, ia menegaskan Teheran tidak akan menerima tekanan melalui kekuatan militer.

“Kami tidak akan pernah menundukkan kepala atau membungkukkan lutut. Kami siap untuk dialog, diplomasi, dan negosiasi, tetapi tidak akan menerima bahasa kekerasan,” kata Pezeshkian dalam pidatonya di New York, Rabu (23/9/2026).

Dalam pidatonya, Pezeshkian menuduh AS dan Israel menyerang wilayah Iran serta menewaskan warga sipil. Ia juga menyebut Iran bertindak untuk membela diri.

Pezeshkian turut menyinggung tewasnya sejumlah pejabat Iran dalam serangan tersebut. Ia juga mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengancam akan menghancurkan Republik Islam Iran jika tidak tercapai kesepakatan.

Sementara itu, delegasi AS meninggalkan ruang sidang ketika Pezeshkian menyampaikan bagian pidatonya yang mengecam Washington.

Selain konflik, Pezeshkian menyoroti program nuklir Iran. Ia mengatakan Teheran tidak menginginkan senjata nuklir, tetapi tetap mempertahankan hak untuk mengembangkan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

“Kami siap untuk dialog dan diplomasi serta negosiasi tanpa menerima bahasa kekuatan,” ujar Pezeshkian.

Pernyataan tersebut muncul ketika program nuklir Iran menjadi salah satu persoalan utama dalam pembicaraan dengan Washington. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Presiden Donald Trump masih membuka peluang kesepakatan, tetapi Washington menuntut jaminan bahwa Iran tidak akan memiliki senjata nuklir.

AS dan Iran Masih Buka Jalur Diplomasi

Di sisi lain, Pezeshkian menyatakan Iran tetap siap menempuh jalur diplomasi. Pejabat AS dan Iran juga melakukan pembicaraan tidak langsung di sela-sela Sidang Umum PBB melalui mediator.

Namun, kedua negara masih memiliki perbedaan dalam sejumlah isu utama, termasuk program nuklir dan sanksi AS. Reuters melaporkan kedua pihak masih berjauhan dalam posisi untuk mengakhiri konflik, meski upaya diplomasi terus berjalan. Demikian dikutip dari laporkan ‘en-hrana.org’. (Wal Ksp).

Leave a Reply

Your email address will not be published.