Batam – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk menutup rapat seluruh celah penyelundupan narkotika dan kejahatan transnasional. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn.) Djamari Chaniago menyatakan bahwa wilayah Nusantara tidak boleh menjadi area transit, penyimpanan, maupun pasar bagi jaringan narkoba global.
Hal tersebut penegasan Menko Polkam saat memimpin konferensi pers pengungkapan kasus penyelundupan 2,6 Ton sabu cair di Batam, Kepulauan Riau, Jumat (21/8/2026). Operasi gabungan ini sukses mengamankan barang bukti bernilai masif yang selundupkan menggunakan kapal asing.
“Indonesia tidak boleh menjadi tempat transit, tidak boleh menjadi tempat penyimpanan, dan tidak boleh menjadi pasar jaringan narkoba serta kejahatan transnasional,” ujar Menko Djamari dengan nada tegas.
Menko Polkam mengapresiasi sinergi seluruh unsur yang terlibat dalam operasi ini. Pemberantasan narkoba, menurutnya, merupakan pilar penting dalam mendukung program Asta Cita Presiden.
Ia memaparkan, penggagalan 2,6 ton sabu cair ini berhasil menyelamatkan sekitar 14 juta jiwa dari bahaya ketergantungan. Secara ekonomi, operasi ini memotong potensi beban biaya rehabilitasi negara yang perkirakan mencapai Rp140 triliun. Asumsi biaya rehab minimal Rp10 juta per orang selama enam bulan.
“Kebersamaan ini mutlak perlu. Ini bukti bahwa kita tidak akan pernah lemah dan tidak akan menurunkan semangat untuk menjaga kedaulatan bangsa,” imbuhnya.
Keberhasilan ini merupakan hasil kerja keras tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta Polda Kepulauan Riau.
Petugas mencegat kapal MV Ocean Porter di perairan Tanjung Balai Karimun pada Senin (17/8/2026). Dalam penyergapan tersebut, Bea Cukai mengerahkan Kapal Patroli BC 30005, BC 20011, serta unit K9 Batam.
Dari hasil pemeriksaan kontainer kapal, petugas menemukan tangki air berisi 2,6 ton narkotika cair dan ratusan dus rokok ilegal asal China. Sebanyak 10 orang awak kapal berkewarganegaraan Myanmar langsung di amankan untuk proses hukum lebih lanjut.
Kepala BNN Komjen Pol. Suyudi Ario Seto mengakui wilayah Kepulauan Riau sangat rawan karena berada di jalur perairan internasional. Untuk itu, BNN terus mengintensifkan patroli, memperkuat pertukaran informasi antarlembaga, serta memperluas pemantauan hingga ke ruang siber.
Senada dengan BNN, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Letjen TNI (Purn.) Djaka Budhi Utama memastikan jajarannya akan tetap berdiri di garis terdepan demi menjaga perbatasan dan melindungi perekonomian nasional.
Hadir acara konferensi pers oleh sejumlah pejabat tinggi negara, di antaranya Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman, Ketua MKD DPR RI Nazaruddin Dek Gam, Sesmenko Polkam Letjen TNI Mochammad Hasan, Kapolda Kepri, serta jajaran pimpinan TNI-Polri dan pemerintah daerah setempat.(ogit).


Leave a Reply