Lampung Selatan, MBCIndonesia.com – Kawasan Selat Sunda mendadak heboh setelah daratan baru seluas 30,3 hektare muncul di antara Pulau Anak Krakatau dan Pulau Sertung, Lampung Selatan.
Fenomena yang terlihat sejak aktivitas vulkanik meningkat pada Juli 2026 ini memicu spekulasi liar di media sosial. Warganet bahkan mulai menyebut fenomena ini sebagai lahirnya “Cucu Krakatau”. Namun, petugas berwenang segera meluruskan informasi tersebut agar tidak memicu kepanikan keliru di masyarakat.
Akumulasi Material Hasil Erupsi
Daratan ini terbentuk murni dari tumpukan material vulkanik seperti pasir, batu, dan abu. Material tersebut terus keluar dan mengendap di laut saat Gunung Anak Krakatau (GAK) mengalami rangkaian erupsi dalam beberapa bulan terakhir.
Petugas mulai mendeteksi kemunculan daratan baru ini secara jelas setelah status aktivitas Gunung Anak Krakatau naik ke Level III (Siaga) pada 2 Juli 2026. Karakteristik erupsi GAK yang aktif melontarkan material padat membuat proses pembentukan daratan di dangkalnya Selat Sunda terjadi dengan sangat cepat.
Bantahan Rumor Cucu Krakatau
Pihak berwenang menegaskan bahwa daratan baru ini bukanlah pusat gunung api baru yang mandiri. Masyarakat diimbau untuk tidak menelan mentah-mentah istilah “Cucu Krakatau” yang beredar luas di internet.
Kepala Pos Pemantauan GAK, Suwarno, memberikan konfirmasi resmi untuk meluruskan kesalahpahaman tersebut pada Rabu (23/9/2026).
“Kami menegaskan belum ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa daratan tersebut merupakan gunung api baru atau pusat erupsi baru. Ini hanyalah akumulasi material vulkanik hasil erupsi Gunung Anak Krakatau,” ujar Suwarno.
Selanjutnya, petugas terus memantau aktivitas GAK secara ketat dari pos pengamatan. Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau telah turun dan berada pada Status Level II (Waspada). Meskipun demikian, pihak berwenang tetap melarang keras masyarakat maupun wisatawan untuk melakukan aktivitas apa pun dalam radius aman 2 kilometer dari kawah aktif demi keselamatan.(Wal Ksp)

Leave a Reply