Bogor, MBCIndonesia.com – Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengunjungi Sekolah Anak Indonesia (SAI) di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis (24/9/2026). Kunjungan ini bertujuan untuk melihat langsung proses pembelajaran kontekstual yang diterapkan sekolah tersebut bagi anak-anak Papua.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Fajar mengapresiasi model pembelajaran mendalam di SAI yang menghubungkan pendidikan dengan lingkungan alam dan potensi nyata para murid. Menurutnya, metode ini berhasil memanusiakan manusia serta memberikan ruang bagi anak-anak untuk berkembang secara utuh dan mandiri.
“Saat ini kami sedang melihat sekolah yang memiliki keunikan. Di mana mayoritasnya adalah dari anak-anak Papua dan model pembelajarannya juga sangat unik,” ujar Wamendikdasmen Fajar saat memberikan keterangan di Bogor.
Lebih lanjut, Wamen Fajar mengapresiasi lingkungan belajar di SAI yang mendukung perkembangan utuh anak. Terlebih komitmen sekolah dalam menghadirkan pendidikan yang memanusiakan manusia serta terhubung dengan alam.
Mengubah Paradigma Masa Depan Melalui Wirausaha
Kepala SMA SAI, Yanto Sutrisno Saragih, menjelaskan bahwa seluruh murid di sekolahnya berasal dari berbagai wilayah di Papua. Seperti Kabupaten Intan Jaya, Nabire, dan Dogiyai. Pihak sekolah merancang pendidikan agar siswa tidak hanya mengejar nilai akademis. Melainkan juga mengenali jati diri dan peran mereka untuk membangun daerah asal.
Sistem pembelajaran di SAI kini berhasil memperluas wawasan para murid dalam menentukan cita-cita mereka. “Ketika pertama kali datang, mayoritas siswa hanya ingin menjadi pegawai karena keterbatasan referensi pekerjaan di kampung halaman mereka. Namun, setelah mendapatkan pengalaman belajar yang variatif dan berbasis teknologi, banyak murid yang kini termotivasi untuk menjadi pengusaha,” terangnya.
“Sesuai dengan visi kami yaitu anak bangsa mencintai dan memiliki daerahnya,” ujar Yanto mengenai tujuan pendidikan di sekolah ini. Pendekatan ini berhasil memperluas wawasan siswa yang semula hanya ingin menjadi pegawai, kini termotivasi untuk menjadi pengusaha.
Memanfaatkan Singkong Menjadi Produk Bernilai Jual
Dalam kunjungan tersebut, Wamen Fajar juga menyaksikan langsung para siswa mempraktikkan keterampilan wirausaha. Mereka mengolah singkong menjadi produk kukis khas yang mereka beri nama Usua Ena.
Melalui praktik pembuatan kue ini, para murid belajar memanfaatkan bahan baku yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk yang bernilai ekonomi. Kegiatan ini sekaligus mengasah jiwa kewirausahaan dan kreativitas anak-anak sejak dini agar siap menjadi agen perubahan saat kembali ke daerah asal mereka.(ogit)

Leave a Reply