Jakarta, MBCIndonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menggunakan teknologi dry ice atau es kering untuk membantu menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih melanda sejumlah wilayah Indonesia hingga pertengahan Oktober 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan upaya penanganan karhutla masih membutuhkan waktu dan kerja keras setidaknya selama dua pekan ke depan. Pasalnya, hujan alami di sejumlah wilayah terdampak, terutama Kalimantan Barat bagian selatan dan Kalimantan Tengah, diperkirakan baru turun pada awal November 2026.
“Hujan alami kira-kira nanti di awal November. Jadi, ini masih perlu perjuangan selama dua minggu ke depan,” kata Faisal di Jakarta, Kamis (15/10/2026). Mengutip dari Bisnis.com, Jumat (16/10).
Selain mengandalkan upaya pemadaman, BMKG juga berusaha mendatangkan hujan melalui teknologi modifikasi cuaca. Dalam upaya tersebut, BMKG bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta otoritas dari Thailand untuk menguji penggunaan dry ice.
Menurut Faisal, asap pekat akibat karhutla saat ini terperangkap di bawah ketinggian 7.000 kaki karena adanya lapisan inversi. Kondisi tersebut menghambat masuknya sinar matahari yang berperan penting dalam proses penguapan dan pembentukan awan hujan.
Gunakan Teknologi dry ice
Melalui teknologi dry ice, BMKG berupaya membuka lapisan asap tersebut agar sinar matahari dapat menembus atmosfer dan membantu meningkatkan penguapan.
“Setelah terbuka, asapnya akan keluar dan sinar matahari bisa masuk. Ini dapat meningkatkan penguapan serta pertumbuhan awan hujan,” jelas Faisal.
Lebih lanjut, BMKG akan melanjutkan upaya tersebut sebelum kembali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah ini bertujuan meningkatkan peluang terbentuknya awan hujan untuk membantu mengatasi kebakaran, terutama di kawasan bergambut dan tanah mineral.
Faisal menjelaskan, keberadaan sinar matahari sangat penting dalam proses pembentukan awan hujan. Tanpa dukungan kondisi atmosfer yang memadai, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca akan menghadapi kendala.
“Sinar matahari sangat diperlukan agar awan hujan dapat terbentuk,” ujarnya.
Sementara itu, BMKG mulai menjalankan uji coba teknologi dry ice di sejumlah wilayah terdampak karhutla. Lokasi tersebut meliputi Sumatra Selatan dengan pos komando di Lampung serta Kalimantan Tengah dengan pos komando di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
BMKG berharap berbagai upaya tersebut dapat membantu mendatangkan hujan dan mempercepat penanganan karhutla. Namun, masyarakat masih perlu menghadapi kondisi cuaca kering hingga hujan alami mulai turun pada awal November mendatang.(Wal Ksp)

Leave a Reply