Jakarta, MBCIndonesia.com – Nilai Tukar Petani (NTP) nasional pada Agustus 2026 sukses menembus angka 129,19. Angka ini menjadi level tertinggi sepanjang sejarah setelah mengalami kenaikan sebesar 1,05 persen dibandingkan bulan Juli 2026 yang berada di posisi 127,84. Lompatan ini membuktikan bahwa posisi ekonomi petani Indonesia semakin kuat karena pendapatan mereka tumbuh lebih cepat daripada biaya hidup dan modal produksi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus mengejar swasembada pangan, tetapi juga memprioritaskan kantong petani agar semakin tebal.
“Bapak Presiden Prabowo menugaskan kepada kami agar swasembada pangan segera terwujud. Namun yang lebih penting, swasembada itu harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani. Kalau petani sejahtera, produksi akan meningkat, masyarakat juga mendapatkan pangan dengan harga yang stabil,” ujar Mentan Amran di Jakarta, Senin (21/9/2026).
Sukses Nyata dari Merauke Hingga Bone
Dampak kebijakan ini langsung mengubah kehidupan para petani di daerah. Di Merauke, Papua Selatan, seorang petani bernama Roby Basik-Basik berhasil membangun rumah dan membiayai sekolah anak-anaknya dari hasil budidaya padi. Menariknya lagi, pemuda-pemudi asli Papua kini sudah mahir mengoperasikan teknologi modern seperti drone pertanian dan mesin pemanen (combine harvester).
“Saya rasakan lebih enak, lebih sukses. Sampai saya bisa bangun rumah itu, ini pribadi saya. Itu gara-gara saya garap tanam padi dan pertanian,” tutur Roby dengan bangga.
Sementara itu di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Brigade Pangan Masseddi di Desa Pakkasalo juga merasakan lompatan yang sama. Berkat bantuan traktor dan mesin pemanen modern dari pemerintah, mereka kini bisa menggarap sawah jauh lebih cepat.
Ketua kelompok tani setempat, Ardiansyah, mengungkapkan bahwa teknologi ini membuat petani mampu menanam padi hingga dua sampai tiga kali dalam setahun, dari yang sebelumnya hanya satu kali.
“Dulu kami hanya bisa menanam satu kali dalam setahun karena keterbatasan alat dan kondisi lahan. Sekarang, dengan bantuan combine harvester, traktor, rotavator, serta dukungan pemerintah lainnya, kami bisa menanam dua sampai tiga kali. Produksi meningkat, biaya lebih efisien, dan tentu pendapatan petani juga ikut bertambah,” pungkas Ardiansyah.
Pangkas Biaya Produksi Lewat Subsidi Pupuk
Hingga saat ini, sektor pertanian masih menjadi urat nadi perekonomian Indonesia dengan menyerap 27,99 persen total tenaga kerja nasional. Guna melindungi kelompok terbesar seperti petani gurem dan buruh tani, pemerintah langsung membenahi pengelolaan sektor ini dari hulu sampai ke hilir.
Melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2025, pemerintah menyederhanakan birokrasi agar penyaluran pupuk bersubsidi berjalan lebih cepat dan tepat sasaran. Selanjutnya, pemerintah mengambil langkah berani dengan memotong Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk bersubsidi hingga 20 persen. Saat ini, harga pupuk Urea turun menjadi Rp1.800 per kilogram, sementara NPK turun menjadi Rp1.840 per kilogram.
Pada bagian hilir, pemerintah juga menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen sebesar Rp6.500 per kilogram untuk mengamankan harga jual saat panen raya tiba.(ogit)

Leave a Reply